Banner space (950x60)
 
Bookmark and Share
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
go-jakarta.com
Sri Mulyani pun Butuh Dukungan
lokasi: Home / Berita / OPINI / [sumber: Jakartapress.com]
Senin, 08/02/2010 | 15:04 WIB

Sri Mulyani pun Butuh Dukungan
OLEH: ARIEF TURATNO

AWAS anjing yang terpepet bisa menggigit. Ini adalah filosofi yang umum di masyarakat. Artinya seseorang yang dalam keadaan terdesak, akan berbuat apa saja untuk membela diri, sekaligus melakukan perlawanan. Seorang teman kembali menanyakan, mengapa Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengundang mahasiswa untuk berdialog di televisi? Untuk apa dan apa pula implikasi dari dialog itu?

Seperti awal tulisan ini, siapa pun dapat melakukan perlawanan. Jika semut yang kecil saja bisa melawan manusia yang jauh lebih besar. Apalagi seorang Sri Mulyani yang sampai sekarang menurut asumsi public masih menjadi anak emas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Maka sangat wajar, jika Sri Muluyani pun mengadakan pembelaan terhadap cercaan yang menjurus kepada dirinya.

Dalam dialog di salah satu stasiun televise swasta tersebut dikabarkan bahwa si pemandu dialog terus-terusan “nyerocos” sehingga tidak memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya. Kalau saya katakan, pemandu atau moderator dialog tersebut berarti sudah menjalankan misi yang benar. Karena kita yakin, meskipun Menkeu datang ke arena dialog sebagai narasumber, namun belum tentu Sri Mulyani siap dengan semua jawaban yang ditanyakan para mahasiswa.

Juga, meskipun barangkali semua mahasiswa yang hadir dalam dialog tersebut sebelumnya telah diarahkan untuk tidak menyerang Menkeu. Namun, dalam prakteknya, bisa saja terjadi penyimpangan. Artinya, bisa terjadi mahasiswa yang karena kurang puas, terus keluar jalur dan mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya telah disepakati untuk tidak dipersoalkan. Disinilah peranan moderator untuk mengawal dialog sesuai dengan pesanan tersebut.

Masalahnya sekarang kepada kita sendiri, pemirsa untuk memberikan penilaian. Apakah dialog semacam itu layak untuk ditonton atau tidak. Kemudian apakah materi yang disampaikan dalam dialog itu benar berdasarkan fakta di lapangan atau tidak. Bila memang semua tidak benar, lama kelamaan dialog yang diselenggarakan stasiun televise semacam itu bakal ditinggalkan pemirsa. Dan jangan lupa, hukuman penonton atau pemirsa justeru lebih sadis daripada sanksi hukuman pengadilan.

Di sisi lain, mahasiswa yang hadir dalam dialog tersebut pun belum tentu menerima keterangan Menkeu maupun moderator. Kalau pun mereka tidak mengutarakan ketidakpuasannya saat itu, karena kita tahu ruang yang tersedia untuk mahasiswa sangat terbatas. Dan ini menurut saya justeru berbahaya. Karena saluran aspirasi yang tersumbat, suatu ketika dapat meledak dan malah menjadi boomerang. Artinya, dialog itu hanya berhasil untuk sesaat, tetapi tidak untuk jangka panjang. Pertanyaan adalah kalau begitu apa yang mesti dilakukan Sri Mulyani agar masyarakat dapat memahami kebijakannya berkaitan dengan bailput Bank Century senilai Rp6,7 triliun?

Barkatalah jujur! Katakan apa adanya yang dia ketahui, meskipun resikonya barangkali Sri Mulyani akan kehilangan jabatan. Namun, kita anggap itu jauh lebih baik dan ksatria daripada terus berbohong dan menjadi target atau caci maki rakyat. Sri Mulyani mesti mencontoh mantan Kabareskrim Polri, Komjen Pol Susno Duadji. Sebelumnya, Jenderal Polisi berbintang tiga itu dikecam habis-habisan oleh public atau rakyat karena berbohong dan mencoba menutupi apa yang terjadi sebenarnya .

Susno memang mampu bungkam sekian lama. Namun akhirnya jebol juga. Dan setelah mantan Kabareskrim itu nyanyi, Susno Duadji yang sebelumnya diolok-olok public ganti dipuja masyarakat karena berani menyampaikan kebenaran. Sri Mulyani pun bisa menjadi pahlawan rakyat, asal berani mengatakan hal yang sebenarnya tentang Bank Century. Jika Sri Mulyani tetap bungkam, meskipun sudah dibela atau membela diri mati-matian, rakyat tetap terus mencacinya. Sekarang pilihan ada pada Sri Mulyani sendiri. (*)

Banner space (468x60)
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam:
 
RE:Sri Mulyani pun Butuh Dukungan 
Senin, 08/02/2010 | 23:42 WIB, oleh JeKa
 
Tulisan ini seolah-olah Arief ngerti secara benar duduk permasalahannya dan bahwa SMI pada saat ini sedang 'berbohong'. Meminjam istilah yang sering Arief pakai : 'Bagaimana seandainya' ternyata SMI jujur? Apakah tidak terlintas di pemikiran Arief? Ini kah pers yang berkualitas?
 
Komentar ke : 1 - 1 | Total : 1 | Halaman :