Sudah Gawat, SBY Perlu Dukugan TNI/Polri?
OLEH: ARIEF TURATNO
SUDAH sedemikian gawatkah, sehingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerlukan dukungan TNI/Polri? Itulah kira-kira bunyi SMS seorang teman dalam menanggapi manuver SBY terakhir ini. Sebagaimana kita ketahui, Minggu (7/2) SBY dengan para pembantunya berkunjung ke Lampung untuk menemui Kesatuan (Corp) Marinir di wilayah itu yang kebetulan sedang mengadakan latihan tempur. Hari berikutnya, SBY mengunjungi salah satu Kesatuan TNI Angkatan Darat untuk bersama-sama lari pagi. Dan pada kesempatan lain, SBY mengunjungi Polri dan mungkin pula dalam waktu dekat mengunjungi Kesatuan TNI Angkatan Udara.
Dengan demikian ketiga matra darat, laut dan udara serta Polri akan dikunjungi semua oleh Presiden. Dalam tata aturan kenegaraan Republik Indonesia, Presiden adalah Pimpinan tertinggi ketiga angkatan dan Polri. Karena kunjungan Presiden ketiga matra, yakni darat, laut dan udara serta Polri adalah hal yang biasa. Kalau pun sekarang dianggap luar biasa, karena posisi Presiden saat ini dalam keadaan terjepit. Dimana semua elemen masyarakat menilai bahwa dalam kasus Bank Century SBY-lah yang paling bertanggungjawab. Penilaian masyarakat tentu bukan tanpa dasar yang jelas. Mereka menilai tentunya setelah mendengar keterangan semua saksi dan berdasarkan logika atau penalaran.
Misalnya, sangat tidak mungkin Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani maupun Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono menyetuji tentang bailout sebssar Rp 6,7 triliun jika tanpa persetujuan atau sepengetahuan Presiden. Dan sebelum diputuskan mengucurkan dana talangan tersebut, terlebih dulu diadakan rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangang (KSSK) yang dipimpin Menkeu sebagai Ketua KSSK. Dalam rapat itu hadir antara lain Marsilam Simanjuntak yang saat ini menjabat sebagai “orang dekat” Presiden SBY. Meskipun berkali-kali Marsilam membantah bahwa kedatangannya dalam rapat KSSK itu diperintah SBY. Namun, logika awam jelas menolak bantahan tersebut. Sebab awam atau semua orang mengetahui Marsilam adalah orang yang tertib dan disiplin.
Ada pula yang menyebut Marsilam adalah orang yang selalu menjaga diri untuk tidak berbuat aneh-aneh. Dengan semua latar belakang yang disandang Marsilam, maka sangat tidak mungkin dia datang di rapat KSSK (mengaku sebagai narasumber) tanpa memberitahukan bosnya. Kita sangat yakin, jika kedatangan Marsilam ke tempat rapat itu pasti telah meminta ijin kepada SBY terlebih dahulu. Bahkan banyak orang yang menilai kedatangan Marsilam adalah atas perintah SBY. Namun anehnya baik Marsilam, Sri Mulyani maupun Boediono yang sekarang menyandang jabatan Wakil Presiden bungkam soal keterlibatan bosnya. Apakah karena ada tekanan atau alasan lain? Kita semua tidak tahu tentang apa yang terjadi di antara mereka. Namun begitu tidak menyurutkan niat rakyat untuk meminta pertanggungjawaban masalah Bank Century kepada SBY. Karena alasan inilah kemudian masyarakat menghubungkan antara kedatangan SBY kepada TNI AD, Laut dan Udara serta Polri sebagai upaya merangkul mereka untuk menghadapi rakyat. Mungkinkah?
Selama ini kita tahu, TNI, baik Angkatan Darat, Laut maupun Udara dan Polri selau berpihak kepada rakyat dan menjadi pelindung serta pengayom rakyat. Dalam kapasitas Presiden selaku pimpinan tertinggi ketiga angakatan dan Polri, memang SBY punya kewenangan mengerahkan mereka. Namun tentunya dengan alasan yang dapat dibenarkan, misalnya karena negara sedang terancam bahaya, atau diserbu musuh. Baik dari dalam maupun luar negeri. Itu pun harus dengan persetujuan DPR, sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Pertanyaannya adalah apakah mungkin TNI akan digunakan SBY untuk melindungi dirinya? Bagi SBY mungkin, tetapi untuk TNI mereka pasti akan melihat sejauh mana hal tersebut dapat dilakukan tanpa melanggar ketentuan undang-undang.
Artinya, jika Presiden SBY dalam keadaan benar, maka adalah menjadi kewajiban alat negara untuk melindunginya. Sebaliknya, jika rakyat pada posisi yang benar, maka tentu TNI tidak mungkin mau bertempur melawan rakyatnya sendiri. Dan jangan lupa semboyan TNI sendiri bahwa mereka berasal dari rakyat maka akan kembali mengabdikan dirinya kepada rakyat, bukan kepada sosok individu. Karena itu, kita tidaklah terlalu bercuriga berlebihan tentang sikap TNI dan Polri terhadap kunjungan SBY belakangan ini. Tanggapilah semua itu sebagai sesuatu yang wajar, dan jangan berlebihan.. Kita percayakan saja kepada TNI dan Polri, bahwa mereka pasti akan berdiri di pihak yang benar dan pantas dibela. (*)
Senin, 08/02/2010 | 23:53 WIB, oleh JeKa
| Komentar ke : 1 - 1 | Total : 1 | Halaman : |
