Banner space (950x60)
 
Bookmark and Share
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
go-jakarta.com
Gus Dur Pantas Masuk Guinness Book of Records
lokasi: Home / Berita / Tokoh / [sumber: Jakartapress.com]
Senin, 08/02/2010 | 08:39 WIB
Gus Dur Pantas Masuk Guinness Book of Records

SOSOK Gus Dur tidak hanya melekat di hati orang-orang terdekatnya tapi juga masyarakat. Sosok Gus Dur dianggap pantas untuk bisa masuk ke dalam Guinness Book of Records mengingat pribadinya yang sangat bersahaja. "Buat saya, Gus Dur ini lebih pantas masuk Guinness Book of Records, bukan masuk MURI lagi, karena selama hidupnya meski disakiti orang, Gus Dur tidak pernah dendam sama orang tersebut," kata deklarator PKB Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sambutannya di acara tahlilan mengenang 40 hari wafatnya Gus Dur di Ponpes Tebu Ireng, Jombang, Minggu (7/2).

Tahlilan memperingati 40 hari wafatnya Gus Dur di Jombang, sudah selesai sejak pukul 22.30 WIB. Dari pantauan detikcom, kemacetan terjadi di sekitar komplek Tebu Ireng, akibat penuhnya peziarah yang pulang dengan berjalan kaki. Namun begitu, masih ada juga peziarah yang terus berdatangan.

Tahlilan mengenang kepergiaan KH Abdurrahman Wahid memang terus menggema di Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Meskipun gerimis terus mengundang kawasan pemakaman tetap disesaki oleh peziarah yang diperkirakan mencapai 50 ribu orang. Di antara mereka bahkan ada yang jatuh lemas akibat kehabisan tenaga. Empat unit mobil dari Departemen Kesehatan telah disiapkan di sekitaran lokasi pemakaman. Mobil ini digunakan untuk mengantisiapasi para peziarah yang lemas.

Putri pertama Gus Dur, Alisa Wahid, yang juga hadir dalam tahlilan memberikan ucapan terima kasihnya kepada para peziarah. "Hari ini kita keluarga sangat berterima kasih pada peziarah, dan kami mohon maaf kalau jamuan yang kami sediakan kurang enak, malam hari ini kita keluarga fokus untuk mengenang dan mendoakan Gus Dur," ujarnya.

Hingga saat ini, tahlilan masih terus berlangsung. Sejumlah tokoh hadir, di antaranya adalah Mahfud MD, Mistofa bisri (Gus Mus), Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan sejumlah pengasuh pondok pesanteran dari wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Selepas tahlilan, Mahfud MD akan menyampaikan profil Gus Dur sepanjang hidupnya.

Alisa Menangis enang Gus Dur
Alisa Wahid, putri pertama KH Abdurrahman Wahid, diberi kesempatan untuk menceritakan kenangannya soal Gus Dur. Alisa tak kuasa menahan emosinya, dan ia pun menangis di depan ribuan peziarah. "Kita tidak akan pernah lagi mendengar lawakan Gus Dur, nyanyian Gus Dur, lagu-lagunya, kita berharap akan ada lagi Gus Dur lain yang akan datang," kata Alisa di Ponpes Tebuireng.

Alisa menceritakan soal Gus Dur sambil terisak tangis. Ribuan peziarah yang terus mengikuti acara 40 hari wafatnya Gus Dur ini pun ikut menangis. Alisa mengakui jika ayahnya sangat mencintai perbedaan. Terbukti peziarah yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang. "Itu semua karena Gus Dur orangnya sangat demokratis," paparnya.

Acara memperingati 40 hari meninggalnya Gus Dur berlangsung di bawah guyuran hujan deras. Selain pembacaan Yasin dan doa lintas agama, dalam tahlilan ini juga dibagikan buku yang bercerita tentang tokoh NU tersebut. Di kediaman Gus Dur, Jl Ciganjur Jakarta Selatan, para jemaah yang hadir mendapat buku yang berisi yasin dan tahlil berwarna hijau. Selain itu mereka juga diberikan buku berjudul "Gus Dur Bertahta di Sanubari" yang diedit langsung oleh putrinya, Anisa Wahid.

Hujan masih terus mengguyur, tapi tidak terlihat seorang pun jamaah yang bubar. Hadir juga dalam tahlilan ini antara lain KH Said Aqil Siradj, Ali Maskur Musa dan beberapa kiai dari daerah Jakarta, termasuk beberapa mantan kader dari dari PKB. Sementara dari pihak budayawan Ebiet G Ade tampak hadir bersama rombongannya yang membawa gitar. Rencananya, setelah tahlilan selesai akan dilanjutkan dengan acara refleksi dari para seniman pencinta Gus Dur.

Penghargaan dari Gedung Putih Hingga Vatikan
Mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah tiada. Namun rasa duka bukan hanya milik rakyat Indonesia, tapi dunia internasional pun merasakan kepedihannya. "Kami menerima pesan dari Gedung Putih sampai pemimpin negara Islam, dari Syekh Hisyam Kabbani, pemimpin tarikat Naqsabandiyah sampai Paus Benediktus," kata putri Gus Dur, Yenny Wahid saat berbicara di peringatan 40 hari wafatnya Gus Dur di kediamannya, Jl Warung Sila, Ciganjur, Minggu (7/2).

Selain di Ciganjur, acara peringatan 40 hari wafatnya Gus Dur juga dilaksanakan di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di dua tempat tersebut, ribuan peziarah tumpah ruah untuk mengenang Gus Dur. Sesudah acara, Komunitas Lintas Agama dan Santri Ponpes Ciganjur juga menyerahkan buku kepada keluarga. Setelah itu, beberapa film yang berisi perjalanan Gus Dur juga ikut ditampilkan.

Secara terpisah, ratusan umat dari lintas agama dan kepercayaan, Minggu (7/2), menggelar doa bersama untuk memperingati 40 hari wafatnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Klenteng Hok An Kiong, Jalan Pemuda Nomor 100 Desa Sayangan, Kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.

Doa bersama itu dilakukan oleh lima pemimpin umat di antaranya Ketua Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok An Kiong Muntilan, Budi Rahardjo (Tiong Hoa), KH Muhammad Thoyibi dari Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang (Islam), Romo Kirjito (Katolik) dan Pimpinan Wihara Mendhut Biksu Sri Pannyavaro Mahatera (Hindu).

Selain menggelar doa bersama, ratusan umat tersebut juga mendeklarasikan 'Deklarasi Merajut Merah Putih' di tengah-tengah berlangsungnya acara doa bersama. Deklarasi ini bertujuan untuk meneguhkan komitmen dan kesatuan Indonesia yang intinya menjunjung tinggi dan menghormati perbedaan sesama antar umat beragama.

Pernyataan itu disampaikan oleh sekretaris panitia Doa Bersama Mengenang 40 Hari Wafatnya Gus Dur, Chabib kepada detikcom, Minggu (07/02/10) saat ditemui di Klenteng Hok An Kiong. "Salah satu cara yang dipakai adalah memanfaatkan momentum peringatan 40 hari sampai 1.000 hari meninggalnya Gus Dur akan menggali pemikiran Gus Dur dengan bentuk doa bersama, mendeklarasikan 'Merajut Bendera Merah Putih' dan saresehan," tegas Habib.

Chabib menegaskan, kegiatan ini sebagai wadah untuk mempersatukan komitmen rekan-rekan yang terbentuk sejak lama dari pemikiran Gus Dur. Nantinya akan dibentuk posko-posko di pesantren-pesantren, gereja-gereja, masjid-masjid dan wihara-wihara serta tempat ibadah di seluruh Magelang membuka sumbangan kain warna merah dan warna putih.

Hasil pengumpulan kain merah putih itu akan dirajut sedemikian rupa membentuk ribuan bendera dalam berbagai bentuk dan ukuran. Dalam waktu tiga tahun ke depan, kain warna merah putih akan dikumpul dan selanjutnya dilakukan proses pemasangan bendera merah-putih di seluruh jalan Magelang. Nantinya akan dibentangkan di sepanjang relief Candi Borobudur pada acara peringatan 1.000 hari wafatnya Gus Dur.

Perpustakaan Untuk Kenang Gus Dur
Banyak cara untuk memperingati 40 hari meninggalnya KH. Abdurrahman Wahid. Salah satunya, mendirikan dan kemudian dinamakan perpustakaan Guru Bangsa. Ini, yang terjadi di Yogyakarta.

Perpustakaan Guru Bangsa yang digagas Penerbit Galangpress Yogyakarta menurut rencana akan diresmikan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Tak hanya itu saja, sebuah buku berjudul "Gus Gerrr" akan diluncurkan sebagai bagian acara mengenang tokoh kharismatik yang dikenal dekat dengan banyak kalangan itu.

"Mengakrabi Gus Dur itu tidak ada habisnya," AA Kunto, Litbang Penerbit Galangpress di Yogya bahwa dengan mendirikan perpustakaan merupakan salah satu cara untuk mengenang dan meneruskan aktivitas mantan presiden ke-4.

Gus Dur memang, sosok figur yang dikenal dekat dengan mereka yang lemah dan memiliki keberpihakan pada minoritas baik umat muslim maupun Kristen, Katolik juga etnis Tionghoa. Pendirian perpustakaan merupakan langkah untuk mendekatkan generasi penerus pada pemikiran yang memajukan peradaban bangsa. Semangat pluralisme yang diusung, humanisme dan pemikiran demokrasi menjadi warisan tokoh yang menentang semua bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Menandai peringatan meninggalnya Gus Dur seperti diselenggarakan pembacaan tahlil dan pengajian, doa bersama dengan KH Abdul Muhaimin, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta pada Senin (8/2). Sedang misa kudus akan dipimpin Romo Kirjito pada Selasa (9/2).

Menurut Direktur Galangpress, Julius Felecianus, perpustakaan Guru Bangsa diharapkan dapat memperluas minat baca di masyarakat. Rencananya, penerbit Galang press juga akan membagikan sejumlah buku kepada Polsek, Koramil dan kantor-kantor kecamatan. ''Ada 720 judul dari 25 penerbit yang telah kami hibahkan ke perpustakaan kota Yogya," kata Julius. (dtc/jpc/wok)

Banner space (468x60)
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam: