Banner space (950x60)
 
Bookmark and Share
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
go-jakarta.com
Mega: PDIP Oposisi Pada Pemerintahan SBY
lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]
Minggu, 07/02/2010 | 18:32 WIB
Mega: PDIP Oposisi Pada Pemerintahan SBY

Mataram - Sikap Mega, berlainan dengan Taufiq Kiemas yang cendernung "menempel" SBY melulu. Meski isu reshuffle kabinet menguat seiring sikap Golkar dan PKS yang tidak bisa diatur, tak membuat PDIP tertarik mengincar posisi menteri sebagai penggantinya. Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri (Mega) menegaskan kembali sikap partainya yang akan tetap menjadi oposisi.

"Sikap PDIP saya kira sudah sangat jelas. Kami melakukan prosesnya (oposisi) juga tidak dengan asal-asalan saja," kata Megawati dalam keterangan persnya usai membuka Konferensi Daerah III DPD PDIP NTB di Mataram, Minggu (7/2). Megawati didampingi Sekjen DPP PDIP Pramono Anung dan Ketua Fraksi PDIP di DPR, Tjahjo Kumolo.

Menurut Mega, sikap oposisi PDIP hanya akan bisa di ubah melalui Kongres Nasional PDIP yang akan digelar April mendatang. Sebelum berubah haluan, jika memang dikehendaki, Mega akan menjabarkan alasan-alasan PDIP memilih sikap oposisi. "Bagaimana penyikapan selanjutnya, menjadi suatu keputusan kongres yang akan datang," tegasnya.

Saat ditanya soal sikap SBY yang belakangan ini dinilai lebih banyak curhat di hadapan publik ketimbang melakukan aksi kongkrit, Mega hanya mengomentari sedikit saja. "Seorang pemimpin, bahwa hal-hal yang seharusnya tempat melakukan curahan hati, itu yang harusnya bisa diketahui dengan kematangan dan kedewasaan dari dirinya sendiri," tandas ketua umuM PDIP.

Senang Lihat SBY 'Lebay'
PDI Perjuangan ikut mengomentari sikap SBY yang reaktif akhir-akhir ini. PDIP senang melihat SBY yang mengomentari hal-hal yang kurang substantif. "Kami senang karena kepemimpinanya lebay itu, welcome to our world," kata politisi muda PDIP Budiman Sujatmiko di Rumah Perubahan, Jakarta Selatan, Minggu (7/2).

Menurut Budiman, SBY lebih gemar mengomentari kerbau ketimbang memperhatikan kesejahteraan rakyat. Budiman sendiri tak sependapat dengan klaim SBY bahwa pemerintahan berhasil dalam 100 hari. "Seorang Presiden yang lebih banyak tidak tahunya tetapi mengklaim kebijakan berhasil 90 persen, pemimpin seperti itu tidak pantas menjadi pemimpin," kritik mantan aktivis PRD ini.

Budiman mengingatkan, SBY yang terpilih oleh mayoritas rakyat Indonesia tentu harus memperhatikan kesejahteraan rakyat.  "Dia terpilih 60 persen lebih, sadarlah beliau menjadi Presiden tidak hanya untuk pemilihnya," jelas Budiman.

Budiman berharap SBY mulai merubah pola sikapnya yang sudah terlalu reaktif mengomentari isu tidak penting ketimbang kesejahteraan rakyat. "Lebih baik sadar sebelum terlambat. Daripada terlambat sadar," tutupnya sambil tertawa. (*/dtc/jpc)

Banner space (468x60)
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam: