Ongkos Politik Kasus Century Rp14 Triliun/Hari Untuk Apa?
OLEH ; ARIEF TURATNO
HARI ini, Minggu (7/2) sebuah harian di Ibukota mengutip hasil riset CSIS menyebutkan ongkos politik kasus Bank Century setiap hari menelan Rp 14 triliun. Pertanyaan dan persoalannya adalah uang sebanyak itu untuk apa saja? Dan benarkah hasil riset tersebut? Kalau benar ukurannya apa?
Ada beberapa petuah kuno yang nampaknya cukup relevant kita kemukakan sekarang. Petuah itu antara lain menyebutkan, ono rungu ojo dirungu, ono geger sewu ojo dideleng, gocekono waton sing kenceng (ada suara jangan didengar, ada keributan atau ramai-ramai tidak usah dilihat, lebih baik berpegangan kepada waton).
Waton ada yang menyamakan dengan salah satu tiang penyangga tempat tidur. Namun ada yang menyamakan waton dengan ideology atau pun keyakinan. Lepas dari apa pun arti waton, petuah tersebut setidaknya telah memberi peringatan kepada kita bahwa pada suatu ketika akan muncul massa atau situasi seperti yang kita rasakan sekarang.
Situasi dimana kita dituntut untuk tidak mempercayai dengan apa yang kita lihat, kita dengar, dan bahkan kita saksikan langsung dengan mata kepala senditi. Apalagi hanya kata orang. Misalnya hasil survey, atau hasil suatu penelitian menyebutkan bahwa ongkos politik Bank Century per hari mencapai Rp14 triliun. Dan karena yang mempublis adalah lembaga yang memiliki reputasi internasional, lantas kita diminta untuk percaya begitu saja. Haruskah?
Tentu saja tidak harus. Apalagi bila kita kembalikan kepada petuah kuno tadi. Bahwa meskipun yang membuat pernyataan semacam di atas adalah CSIS, belum tentu pernyataan itu benar semuanya. Lagi pula CSIS bukanlah lembaga independen yang seratus persen berpihak kepada rakyat. Bahkan penelitian maupun survey yang dilakukan CSIS lebih cenderung menguntungkan pihak asing, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya.
Dan siapa tahu hasil penelitian CSIS yang dikeluarkan soal Bank Century berkaitan dengan kepentingan AS di Indonesia. Dugaan semacam itu semakin kuat bila dihubungkan dengan rencana kunjungan Presiden AS Barack Husein Obama ke Jakarta, Maret mendatang.Sementara semua orang tahu, bahwa Presiden Susilo Bambang yudhoyono (SBY) memiliki hubungan yang sangat akrab dengan AS. Maka lengkaplah sudah bilamana kita mengaitkan antara pernyataan CSIS dengan kepentingan AS dan SBY di sini.
Pertanyaannya adalah manfaat apa kira-kira yang dapat diambil AS dan SBY dengan publikasi CSIS mengenai biaya politik kasys Bank Century? Jelas banyak sekali, namun yang paling menyolok adalah pesan dari pernyataan tersebut mengenai betapa besarnya biaya politik kasus Bank Century. Dengan kata lain CSIS bermaksud memperingatkan public agar segera menghentikan kasus Bank Century. Sebab bila diteruskan akan menyedot keuangan atau anggaran Negara dan ini sangat tidak menguntungkan bagi kita semua. Benarkah?
Dan bila publik terpengaruh dengan alasan atau publikasi yang dikeluarkan CSIS, maka akan berhentilah kita mempersoalkan Bank Century. Siapa yang untung? Tentu SBY dan AS, karena bila kasus Bank Century dihentikan, maka ancaman pelengseran terhadap SBY dengan sendirinya akan berkurang, dan kunjungan Obama ke Jakarta pada bulan Maret mendatang pun jauh lebih aman. Begitukah? (*)
Senin, 08/02/2010 | 23:59 WIB, oleh JeKa
Minggu, 07/02/2010 | 16:53 WIB, oleh anti Kebohongan
| Komentar ke : 1 - 2 | Total : 2 | Halaman : |
