Banner space (950x60)
 
Bookmark and Share
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
go-jakarta.com
Dulu 'KPK di Dadaku' - Kini 'KPK Banci'
lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]
Jumat, 05/02/2010 | 13:58 WIB
Dulu 'KPK di Dadaku' - Kini 'KPK Banci'

Dulu 'KPK di Dadaku' - Kini 'KPK Banci'

HARAPAN publik agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat menuntaskan skandal Bank Century nampaknya menelan kekecewaan, sebab sampai saat ini belum ada sepak terjang penting dari KPK dalam menangani kasus tersebut. Lambat dan tidak adanya kemajuan yang berarti dalam penangan kasus Century, nyanyian tentang KPK pun berubah. Bila dulu aksi masa mendukung KPK seraya mengumandangkan lagu merdu “KPK di Dadaku”, apakah kini mereka meneriaki “KPK Banci”?

Kemarin misalnya, sekitar 200 massa yang tergabung dalam Jaringan Kemandirian Nasional (Jaman) dan Komite Aksi Pemuda Anti Korupsi-Indonesia menggelar demo unjukrasa di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka mendesak KPK bekerja lebih cepat untuk mengusut skandal bailout Century dengan segera memeriksa Boediono dan Sri Mulyani. Merekapun membawa ondel-ondel berwajah Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani, dan juga mereka meneriaki KPK banci.

KPK belakangan ini memang dicurigai menjadi alat penguasa. Mereka ditekan dan ditundukkan untuk kepentingan kekuasaan pemerintah. Anggota Pansus Century DPR RI Agun Gunanjar bahkan menyatakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dicurigai menjadi alat pemuas bagi rezim penguasa untuk ''merampok" kekuasaan. Ia pun menyerukan agar KPK jangan mau diintervensi dan ditekan rezim penguasa.

Sebab itu, Gerakan Indonesia Bersih yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat akhirnya mengirim surat terbuka kepada KPK menutut penuntasan kasus skandal Century yang merugikan masyarakat dan bangsa Indonesia. Sampai saat ini, mereka tidak melihat kesungguhan KPK mengusut kasus yang menjadi episentrum gempa politik nasional ini. KPK terkesan lambat, mengulur-ulur waktu, dan berbelit-belit dalam menyelidiki dan menyidik skandal Bank Century. Seolah hasil audit investigasi BPK, yang menurut sejumlah pakar hukum pidana korupsi sudah court ready, tidak ada gunanya.

Saat ini, KPK pun dicurigai bermain mata dengan penguasa ketika menetapkan Bachtiar Chamzah sebagai tersangka dalam kasus pengadaan Sapi dan Mesin Jahit di Departemen Sosial 2004 yang lalu. Dalam hal ini, Anggota Pansus Bank Century dari F-PKS DPR RI Fachry Hamzah Politisi dari PKS menilai KPK hanya berani kepada orang yang lemah, namun terhadap orang-orang yang berpengaruh dan masih memegang kekuasaan KPK justru sangat lemah. Ia menyayangkan sikap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak segera bertindak mengusut kasus bailout Bank Century sebesar Rp 6,7 T, padahal kasusnya sudah terang benderang. Penetapan Bachtiar Chamzah sebagai tersangka juga dinilai adanya muatan politis oleh Parmusi.

Atas penetapan menjadi tersangka tersebut, Bachtiar Chamzah merasa bahwa dirinya dikriminalisasi oleh KPK. Apakah kini KPK asal 'balas dendam'? Dulu ia dikriminalisasi, sekarang ia mengkriminalisasi? Masyarakat akan tetap melek dan mengawasi kerja KPK, bila memang ada indikasi yang tidak pro rakyat bukan mustahil KPK mendapat giliran didemo ratusan 'kerbau'. (Boy M)

Banner space (468x60)
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam: