Banner space (950x60)
 
Bookmark and Share
Berita Terkait
moreBerita Lainnya
go-jakarta.com
RI Dipaksa Produk Unggulan Hadapi FTA
lokasi: Home / Berita / Analisa / [sumber: Jakartapress.com]
Kamis, 04/02/2010 | 10:04 WIB
RI Dipaksa Produk Unggulan Hadapi FTA

RI Dipaksa Produk Unggulan Hadapi FTA

MESKI free trade agreement (FTA) atau perjanjian perdagangan bebas Asean-China yang diberlakukan sejak awal tahun ini dikeluhkan oleh banyak kalangan pelaku usaha dan industri di Indonesia, tapi nampaknya pemerintah akan tetap terus melanjutkan kesepakatan perdagangan tersebut. Dirjen Perdagangan Internasional, Gusmardi Bustami pun berkilah, bahwa perdagangan bebas antar negara kini memang sudah tidak bisa dihindari lagi. “Masalahnya adalah di dalam perkembangan dunia yang mengglobal ini, dimana kita sekarang dan apa yang harus kita perbuat dalam perkembangan ekonomi tersebut,” kelitnya saat seminar Free Trade Agreement (FTA) Asean-China di Hotel Borobudur, Jakarta, kemarin.

Dunia ini memang semakin mengglobal dan salah satu cirinya adalah liberalisasi perdagangan antar negara. Perjanjian-perjanjian perdagangan antar negara sebenarnya memang dimaksudkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tetapi Indonesia , sekali lagi, harus menelan pil pahit karena perjanjian perdagangan tersebut diperkirakan akan merugikan industri dalam negeri dan memungkinkan banyak pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran.

Perjanjian FTA Asean-China itu sendiri sebenarnya telah disetujui pada tahun 2004. Muncul pertanyaan apa saja kerja pemerintah dalam mempersiapkan perjanjian tersebut. Sosialisasi FTA dari pemerintah ke pelaku industri dirasa kurang. Ada juga kritik internal untuk para pelaku industri; mengapa mereka tak juga bisa mengembangkan industrinya sampai saat ini. Kemana saja? Infrastruktur, modal dan juga teknologi sampai saat ini masih menjadi hambatan terbesar dalam membangun industri yang canggih dan mampu bersaing dengan China.

Di balik pesimisme tentang untuk bisa bersaing dengan Cina tersebut, anggota DPR akhirnya menuntut pemerintah untuk memperbaiki hal-hal yang menghambat daya saing industri Indonesia . DPR pun sempat meminta kepada pemerintah untuk menunda FTA ini dengan Cina. Tapi rupanya pemerintah Indonesia tak mampu menegosiasikan atau bahkan menunda FTA ini. Tak ada daya, kini perjanjian tersebut nampaknya sudah menjadi bubur.

Dodi Reza Alex, Anggota DPR RI, mengajak masyarakat untuk tidak terlalu tenggelam dalam persaingan yang sudah terlanjur tersebut. Ia menyarakankan bahwa Indonesia harus bisa menyiapkan satu produk unggulan yang bisa bersaing dengan Cina atau negara lainnya. “Tidak semua produk dan barang dikuasasi oleh Cina. Oleh sebab itu kita harus menyiapkan satu produk unggulan yang mampu bersaing” ujar politisi Golkar tersebut.

Ironis memang, Indonesia adalah tanah yang luas dan memiliki sumber daya alam yang kaya. Tetapi rasanya sulit sekali memberdayakan kekayaan tersebut menjadi sebuah produk unggulan, bahkan satu produk. Yang selama ini terjadi adalah Indonesia selalu mengeksport bahan mentah. Infrastruktur, teknologi dan juga birokrasi yang bobrok dan pungutan liar adalah hambatan yang selalu terjadi. Bila itu tidak diperbaiki bukan saja kini, tapi 20 tahun ke depan mungkin kita masih menyatakan “Indonesia belum siap menghadapi FTA”. Alhasil, tanpa FTA pun industri kita tetap bangkrut karena selalu bergantung pada ekspor bahan mentah. (Boy M)

Banner space (468x60)
 
Komentar
Judul:
 
Nama Lengkap:
Anti Spam: