
“Merah Putih”: Agar Perang Tak Lagi Terjadi
MASIH ingatkan tokoh Senja dalam film Merah Putih yang diluncurkan Agustus 2009 yang lalu. Seorang perempuan anak keluarga jawa kaya yang manja, manjadi yatim piatu dan akhirnya harus hidup seorang diri. Bagaimanakah nasib dan perjalanan Senja selanjutnya? Sosok Senja ini terasa begitu penting diamati sebab peran perempuan tak pernah bisa dihapuskan dalam sejarah kemerdekaan.
Rahayu Saraswati, pemeran tokoh Senja, sekilas menuturkan bagaimana peran Senja selanjutnya dalam film Trilogi Merah Putih seri kedua saat shooting di Sukabumi, Selasa (2/2), yang rencananya selesai produksi Maret 2010 ini.
Bermain di sebuah film tentang perjuangan bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut seperti mengembalikan semangat perjuangan pada tahun lalu ke masa kini. Bagaimana anda menghayati peran tersebut?
Saya sangat beruntung karena sebetulnya nasionalisme sudah tertanam di dalam diri saya. Hal ini misalnya berbeda dengan generasi muda sekarang yang sudah tidak memikirkan hal-hal seperti itu lagi. Itu juga menjadi alasan mengapa kami membuat Trilogi Film ini, yaitu untuk membawa kembali rasa nasionalisme. Tapi memang memasuki peran Senja yang hidup pada tahun 1940-an bukanlah hal yang mudah, tetapi semangat nasionalisme yang tumbuh di diri saya sangat membantu dalam memerankan sosok tersebut. Peran Senja itu sendiri mungkin seperti campuran antara Kartini dan Cuk Nyak Din. Tapi itu semua keluar dari penghayatan diri saya sendiri. Karena tak mungkin saya berperan tanpa sikap penghayatan dari dalam.
Apakah ada kebanggaan tersendiri bisa bermain di film ini?
Itu pasti. Karena tidak setiap hari kita bisa menjadi seorang aktor tetapi pada saat yang sama kita berbakti pada bangsa dan negara.
Anda berperan sebagai Senja, seorang perempuan. Apa pandangan anda?
Kita harus menyadari bahwa bukan hanya laki-laki saja yang waktu itu berperang, tapi perempuan juga berperang bahkan di umur 14 tahun. Saya kemarin baru saja bicara dengan seorang Ibu Veteran. Dia waktu dulu berjuang umur 14 tahun. Selama 14 tahun sudah menjadi seorang pejuang. Dia menjadi perawat dan juga mata-mata. Perempuan juga terkadang harus ikut karena pilihannya kan hidup atau mati.
Hal mana yang paling menarik dalam film ini?
Dalam setiap peperangan itu terkadang banyak hal yang terjadi. Tidak semua kita menginginkan perang. Terkadang kita terpaksa. Kita maen di film ini bukan hanya sekedar ingin main film action saja, tapi juga mencoba mengingat agar perang itu tidak terjadi lagi. Secara pribadi saya suka setiap adegan dalam film ini. Film ini menarik dari awal sampai akhir.
Peran Senja dalam film kedua ini seperti apa?
Pada akhirnya Senja harus ikut dalam 4 tokoh dalam film ini. Senja sudah tidak punya keluarga lagi. Semua yang sudah nonton film pertama mungkin bertanya-tanya apakah Senja selamat atau tidak. Memang ada transisi dimana ia akhirnya menjadi pejuang Indonesia . peran Senja ini sangat penting sebab ada beberapa kejadian yang tak bisa dilakukan tanpa Senja. Ia menjadi seseorang yang ingin mengubah jalan hidupnya dan akhirnya mengerti bahwa perjuangan itu bukan hanya untuk dia sendiri, atau untuk balas dendam. Perubahan karakter dalam film kedua ini yang paling mendasar memang ada pada Senja dan Marius dimana mereka yang tadinya menganggap perjuangan tidak bermanfaat berubah ketika melihat langsung perang yang harus dibayar dengan harga tinggi.
Dialog yang paling anda sukai dalam film kedua ini?
Sebetulnya film itu adalah media visual, banyak ceritanya yang bisa dilihat dari pada didengar. Tapi ada tiga kata dialog yang mungkin bisa menggambarkan film ini yaitu, “Ini untuk Surono”.
Apa makna tiga kata tersebut? Bagaimana peran Senja selanjutnya? Mengapa ia memberontak dan peran apa yang ia lakukan dalam perjuangan? Kita harus melihat langsung filmnya nanti. (Boy M)
Keterangan foto: Lokasi shooting film "Trilogi Merah Putih" di SUkabumi, Selasa (2/2).
