
Memotret Produksi Film Merah Putih II
TIDAK lama lagi kita kembali akan disuguhkan oleh sebuah film perang yang didasarkan pada kisah nyata para kadet Indonesia saat kemerdekaan di akhir 1940-an. Film seri kedua dari Trilogi Merah Putih kini sedang diproduksi dan rencananya selesai pada Maret 2010. Dalam film kedua ini, para pemirsa akan lebih banyak disuguhkan adegan action dibandingkan dengan film pertama. John Browring, Ahli Persenjataan yang juga menangani film Crocodile Dundee II, The Matriox, X-Men Origin: Wolverine, dan juga Australia, nampaknya siap menjadikan film ini sebagai film perang yang elegan.
Sebab itu, film kedua yang mengambil lokasi shooting di Kepulauan Seribu, Sukabumi, dan Pangandaran ini melibatkan banyak tank dan alat militer, kapal bugis dan juga kapal laut Belanda. Tak tanggung-tanggung, 11.000 peluru pun diimport dari Australia untuk melengkapi persenjataan perang dalam film ini. Pada saat berkunjung ke lokasi shooting di Lido, Sukabumi, Selasa (2/2), saya pun disuguhi oleh berbagai adegan action mulai dari tembakan sampai ledakan besar yang menghancurkan tiga rumah.
Rob Allyn, Produser Eksekutif, menyatakan bahwa film ini memang akan menghadirkan sekuen aksi dibandingkan dengan film pertama. “Di film kedua ini actionnya akan lebih banyak dibandingkan dengan film pertama. Karena bila di film pertama para tokoh dalam film tersebut adalah orang-orang yang baru dalam medan perjuangan. Tetapi di film kedua ini para tokoh tersebut berkembang menjadi pejuang yang sejati”, ujarnya di lokasi shooting Sukabumi (2/2).
Tak lupa, produksi film ini mendapuk tim terkemuka dan ahli teknis yang berpengalaman di film-film Hollywood: Koordinator efek khusus dari Inggris Adam Howarth yang juga menangani Saving Private Ryan dan Blackhawk Down, Koordinator pemeran pengganti Rocky McDonald yang menangani Mission Impossible II, the Queit American, make up dan visual effect Rob Trenton yang menangani The Dark Knight dan juga ahli persenjataan John Browring.
Tetapi film yang rencananya berjudul Merah Putih: Darah Garuda ini tetaplah sebuah film yang didasarkan pada sejarah kemerdekaan. Kisah tentang nasionalisme dan persatuan yang telah berhasil membuat kita memenangkan kemerdekaan. Pada seri kedua ini, digambarkan kiprah masing-masing kadet Merah Putih menapaki hari-hari hidupnya setelah mereka tidak bersama lagi. Menceritakan adanya keraguan dan lunturnya kepercayaan karena latar belakang yang berbeda-beda. Keadaan ini digambarkan dengan intrik dan penghianatan sebagai bagian dari drama perjuangan tersebut.
Yadi Sugandi, Sutradara film ini, menyatakan bahwa pesan yang ingin disampaikan dalam film ini adalah soal nasionalisme. “Ini adalah film fiksi yang bersandar pada sejarah yang pernah terjadi. Perang, cinta tanah air, masalah kebangsaan dan juga perasaan bangga menjadi seorang warganegara Indonesia ” ujar peraih Sutradara terbaik dalam untuk Film Merah Putih di Festival Film Internasional Bali 2009 ini.
Bagaimana dengan pemeran dalam film ini. Lukman Sardi, pemeran tokoh Amir, merasa ada kebanggaan tersendiri ketika ia bermain dalam film ini. “Kebanggaan saya bermain dalam film ini bukan karena film ini adalah film action. Fim ini bukan hanya sekedar tentang film percintaan, meski ada kisah percintaan di dalamnya. Lebih dari itu, film ini adalah film yang mengangkat rasa nasionalisme dan cinta tanah air” ungkapnya.
Film Trilogi Merah Putih ini memang diinspirasikan oleh gugurnya paman Hasyim Djojohadikusumo, Sujono dan Subianto, dalam perang kemerdekaan di tahun 1946. Tentu, Hasyim Djojohadikusumo, produser eksekutif, juga mendedikasikan film ini untuk semua pejuang yang gugur dan kita semua yang kini hidup menikmati kemerdekaan. (Boy M)
'Merah Putih': Agar Perang Tak Lagi Terjadi
MASIH ingatkan tokoh Senja dalam film Merah Putih yang diluncurkan Agustus 2009 yang lalu. Seorang perempuan anak keluarga jawa kaya yang manja, manjadi yatim piatu dan akhirnya harus hidup seorang diri. Bagaimanakah nasib dan perjalanan Senja selanjutnya? Sosok Senja ini terasa begitu penting diamati sebab peran perempuan tak pernah bisa dihapuskan dalam sejarah kemerdekaan.
Rahayu Saraswati, pemeran tokoh Senja, sekilas menuturkan bagaimana peran Senja selanjutnya dalam film Trilogi Merah Putih seri kedua saat shooting di Sukabumi, Selasa (2/2), yang rencananya selesai produksi Maret 2010 ini.
Bermain di sebuah film tentang perjuangan bukanlah hal yang mudah. Hal tersebut seperti mengembalikan semangat perjuangan pada tahun lalu ke masa kini. Bagaimana anda menghayati peran tersebut?
Saya sangat beruntung karena sebetulnya nasionalisme sudah tertanam di dalam diri saya. Hal ini misalnya berbeda dengan generasi muda sekarang yang sudah tidak memikirkan hal-hal seperti itu lagi. Itu juga menjadi alasan mengapa kami membuat Trilogi Film ini, yaitu untuk membawa kembali rasa nasionalisme. Tapi memang memasuki peran Senja yang hidup pada tahun 1940-an bukanlah hal yang mudah, tetapi semangat nasionalisme yang tumbuh di diri saya sangat membantu dalam memerankan sosok tersebut. Peran Senja itu sendiri mungkin seperti campuran antara Kartini dan Cuk Nyak Din. Tapi itu semua keluar dari penghayatan diri saya sendiri. Karena tak mungkin saya berperan tanpa sikap penghayatan dari dalam.
Apakah ada kebanggaan tersendiri bisa bermain di film ini?
Itu pasti. Karena tidak setiap hari kita bisa menjadi seorang aktor tetapi pada saat yang sama kita berbakti pada bangsa dan negara.
Anda berperan sebagai Senja, seorang perempuan. Apa pandangan anda?
Kita harus menyadari bahwa bukan hanya laki-laki saja yang waktu itu berperang, tapi perempuan juga berperang bahkan di umur 14 tahun. Saya kemarin baru saja bicara dengan seorang Ibu Veteran. Dia waktu dulu berjuang umur 14 tahun. Selama 14 tahun sudah menjadi seorang pejuang. Dia menjadi perawat dan juga mata-mata. Perempuan juga terkadang harus ikut karena pilihannya kan hidup atau mati.
Hal mana yang paling menarik dalam film ini?
Dalam setiap peperangan itu terkadang banyak hal yang terjadi. Tidak semua kita menginginkan perang. Terkadang kita terpaksa. Kita maen di film ini bukan hanya sekedar ingin main film action saja, tapi juga mencoba mengingat agar perang itu tidak terjadi lagi. Secara pribadi saya suka setiap adegan dalam film ini. Film ini menarik dari awal sampai akhir.
Peran Senja dalam film kedua ini seperti apa?
Pada akhirnya Senja harus ikut dalam 4 tokoh dalam film ini. Senja sudah tidak punya keluarga lagi. Semua yang sudah nonton film pertama mungkin bertanya-tanya apakah Senja selamat atau tidak. Memang ada transisi dimana ia akhirnya menjadi pejuang Indonesia . peran Senja ini sangat penting sebab ada beberapa kejadian yang tak bisa dilakukan tanpa Senja. Ia menjadi seseorang yang ingin mengubah jalan hidupnya dan akhirnya mengerti bahwa perjuangan itu bukan hanya untuk dia sendiri, atau untuk balas dendam. Perubahan karakter dalam film kedua ini yang paling mendasar memang ada pada Senja dan Marius dimana mereka yang tadinya menganggap perjuangan tidak bermanfaat berubah ketika melihat langsung perang yang harus dibayar dengan harga tinggi.
Dialog yang paling anda sukai dalam film kedua ini?
Sebetulnya film itu adalah media visual, banyak ceritanya yang bisa dilihat dari pada didengar. Tapi ada tiga kata dialog yang mungkin bisa menggambarkan film ini yaitu, “Ini untuk Surono”.
Apa makna tiga kata tersebut? Bagaimana peran Senja selanjutnya? Mengapa ia memberontak dan peran apa yang ia lakukan dalam perjuangan? Kita harus melihat langsung filmnya nanti. (Boy M)
Keterangan foto: Lokasi shooting film 'Trilogi Merah Putih' di Sukabumi, Selasa (2/2).
