PARA kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dibuat resah dengan pernyataan Ketua Majelis Pertimbangan Partai, Bachtiar Chamsyah yang menyatakan dukungannya kepada pasangan SBY-JK pada Pemilu Presiden (Pilpres) mendatang. Para kader PPP menganggap pernyataan Bachtiar melanggar etika dan norma-norma yang berlaku . Pernyataan itu juga seolah-olah menandaskan bahwa di PPP tidak ada kader yang layak untuk diusung menjadi calon presiden atau pun calon wakil presiden. Pernyataan Bachtiar semakin mengerucut ke arah tudingan semacam itu, setelah dia menambahkan PPP telah mengalami kegagalan ketika mencalonkan Hamzah Haz beberapa waktu lalu (Pemilu 2004). Belajar dari pengalaman tersebut, maka Bachtiar mendahului yang lain untuk memberi dukungan kepada SBY-JK.
Pertanyaan dan persoalannya adalah apa benar SBY akan memenangkan Pilpres 2009, sehingga jauh hari Bachtiar Chamsyah telah memberikan dukungan kepada “bosnya” tersebut? Kemudian reaksi apa kira-kira yang akan dilakukan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP, Suryadharma Ali, setelah mengetahui salah satu tokoh teras partai tersebut memberikan pernyataan seperti itu? Dan kemana kira-kira nantinya dukungan PPP akan diberikan pada Pilpres 2009? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang memerlukan jawaban.
Untuk memberikan penilaian atau prediksi apakah SBY akan memenangkan Pilpres mendatang atau tidak dengan melihat keadaan saat ini nampaknya masih terlalu jauh. Karena Pilpres sendiri masih cukup lama, sekitar Oktober 2009. Dalam rentang waktu sekitar 11 bulan dari sekarang, mungkin saja banyak hal yang akan terjadi, dan kejadian-kejadian tersebut dapat saja mempengaruhi dukungan atau sebaliknya membuat publik antipati kepada SBY. Karena itu, pernyataan yang disampaikan Bachtiar Chamsyah adalah sebuah perjudian yang dapat menguntungkannya atau sebaliknya merugikannya.
Namun dari sisi politis, apa yang dilakukan Bachtiar Chamsyah, lepas dari suka atau tidak suka, senang atau pun benci, pernyataannya itu telah menunjukan kematangan seorang polikus. Bachtiar Chamsyah telah melihat celah dan dia tidak mau menyia-nyiakan celah tersebut. Lobang dukungan terhadap pasangan SBY-JK, atau setidaknya terhadap SBY, sebenarnya telah terbuka sejak Musyawarah Nasional (Munas) PPPdi Ancol beberapa waktu lalu, yang kemudian berhasil mendudukan Suryadharma Ali sebagai Ketua Umum DPP PPP. Dalam Munas itu kabarnya tangan-tangan SBY ikut bermain sehingga pencalonan Suryadharma Ali sebagai Ketua Umum berjalan lancar dan cukup mulus.
Dengan alasan tersebut, maka Bachtiar Chamsyah yang juga cukup paham terhadap keadaan tidak ingin kecolongan. Dia ingin yang pertama menyatakan, sebelum pada akhirnya nanti Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali diperkirakan akan menyatakan hal yang sama. Mengapa? Ya, karena adanya mata rantai dan usaha balas jasa (utang budi) terhadap SBY, maka dukungan PPP terhadap SBY hanyalah soal waktu saja. Indikasi ke arah itu nampak jelas, ketika secara terus terang PPP menyatakan menolak untuk memberi dukungan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono X hanya karena permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu Hemas menolak RUU Pornografi yang sekarang sudah disahkan menjadi UU.
Hal lain yang menyebabkan Bachtiar Chamsyah berani mendahului bos PPP, Suryadharma Ali adalah kenyataan yang ada, bahwa partai tersebut sekarang tidak memiliki tokoh yang pantas diajukan sebagai calon presiden atau pun calon wakil presiden. Atas dasar logika tersebut, Bachtiar Chamsyah berani melakukan judi yang pemenangnya masih kita tunggu bulan Oktober 2009. Di sisi lain, Suryadharma Ali yang melihat kenakalan salah satu pengurus PPP tersebut, pasti serba salah. Memberikan kata setuju akan mengecilkan posisi dan mengurangi kewibawaan dia sebagai orang nomor satu di partai. Menolak, apalagi menentang berarti dia akan berhadapan tidak saja dengan Bachtiar Chamsyah, tetapi juga bosnya di pemerintahan, Presiden SBY maupun Wapres JK.
Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut, paling mungkin dilakukan Surydharma Ali adalah membiarkan keadaan itu berlalu. Tho, tidak ada untungnya dia mempersoalkan apalagi menentangnya. Dengan catatan, jika dia tidak ingin ada perubahan. Juga dengan catatan, dia suatu ketika rela jabatannya sebagai Ketua Umum DPP PPP bakal diambil orang lain, misalnya Bachtiar Chamsyah. Karena tindakan atau perbuatan politik yang dilakukan Bachtiar Chamsyah tentu tidak berhenti hanya sampai di situ. Implikasi tindakan politik Bachtiar Chamsyah masih cukup panjang yang pasti akan berkelanjutan, bilamana SBY akhirnya memenangkan Pilpres 2009.
Sebaliknya, jika Suryadharma Ali ingin membuat perubahan, sekaligus menangkal dan mementahkan manuver Bachtiar Chamsyah, peluangnya masih cukup terbuka. Dia dapat saja melakukan manuver dengan mengajukan diri sebagai calon presiden dari PPP, atau Suryadharma Ali dapat juga mengusung kandidat lain di luar PPP yang dianggap mampu menyaingi SBY-JK. Dan cara seperti itu dalam dunia politik sah-sah saja bahkan menjelang saat-saat yang menentukan dukungan dicabut juga sudah terbiasa dilakukan para politisi kita.
Hanya persoalannya beranikah Suryadharma Ali melakukan manuver semacam itu yang tentunya memiliki resiko yang besar? Misalnya, dia dapat saja kehilangan jabatan Menteri Koperasi dan UKM yang sekarang digenggamnya. Bahkan bukan mustahil, ada sejumlah kader PPP yang tiba-tiba melakukan manuver dengan membuat mosi tidak percaya kepada kepemimpinannya yang berlanjut dengan Munas Luar Biasa (Munaslub) dan lain sebagainya. Dengan melihat betapa besar resiko yang bakal dihadapi Suryadharma Ali, nampaknya dia akan bersikap diam. Biarlah anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.
(Drs. TB Januar Soemawinata, MM, Pemerhati masalah social politik dari Universitas Nasional/UNAS Jakarta)