Surabaya - Tanda-tanda Pasangan KarSa akan "dimenangkan" dalam Pilgub Jatim, sudah dirasakan Pasangan KaJi sejak memasuki Pilgub Putaran II. Bahkan Khofifah mengaku, menjadi korban fitnah dan black campaign. Ternyata penzaliman itu berlanjut ke proses pencoblosan dan penghitung. "Kami menolak hasil penghitungan dan melanjutkan proses hukumnya ke Mahkamah Konstitusi (MK)," tegas Khofifah dalam jumpa pers yang digelar di Rumah Makan Agis, Surabaya,.
Menurut Khofifah, Pilgub Jatim kali ini merupakan pilkada langsung yang paling kotor yang pernah terjadi. Banyak ditemukan kecurangan di dalam prosesnya, baik proses pilkadanya sendiri maupun proses penghitungan suara. "Tapi semua keberatan yang disampaikan Tim KaJi mulai tingkat KPUD Kabupaten/Kota, tidak pernah mendapat tanggapan", katanya.
Khofifah mencontohkan, ada bukti pelanggaran yang ditemukan timnya di Madura. Seperti penghitungan dengan basis desa bukan TPS, banyaknya formulir C1 yang dicoret dan ditipex. Selain itu ditemukan juga TPS yang dibuka di pinggir jalan. "Masa dalam formulir berbeda TPS, tetapi tulisannya sama. Ini tidak mungkin ditulis orang berbeda, karena bentuk hurufnya sama. Begitu juga warna tintannya, satu formulis bisa berbeda-beda dengan penuh coretan" terang Ketua Umum Muslimat NU ini.
Sementara Sekretaris Tim Pemenangan KaJi, M Mirdasi menjelaskan, bahwa penghitungan suara dilakukan di Hotel Mercure tidak mencerminkan demokrasi di Jatim. Karena tidak bisa diakses oleh masyarakat luas akibat pengamanan yang terlalu berlebihan. "Saya kira Presiden mau datang ke Surabaya. Kok TNI lengkap bersenjata disiagakan di dekat tempat penghitungan suara", sindir Politisi dari Partai Persatuan Pembanguan ini, saat menyidir keberadaan pasukan TNI. (elka)