Surabaya - Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) yang dijadwalkan rampung tahun 2009, terancam molor. Pemerintah Propinsi Jatim, minta Menteri Keuangan bertindak cepat dalam proses pencairan pinjaman luar negeri tahap kedua, untuk penyelesaian pembangunan Jembatan Suramadu senilai hampir Rp790 milyar.
Pejabat Gubernur Jawa Timur, Setya Purwaka meyakini, jembatan Suramadu yang rencana diresmikan 2009 akan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi baru Jawa Timur. Sejumlah data tentang pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, menyatakan petumbuhan ekonomi Jawa Timur di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. "Bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo menjadi di antara penyebab. Data yang ada pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di 2006-2007 hanya dikisaran 6,1%, menurun jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai 6,7%", kata Setya Purwaka.
Setya Purwaka di sela-sela Konferensi Regional Teknik ke-10 yang digelar di Hotel Shangri-La Surabaya berharap, dana pembangunan yang ada sudah menipis, sementara dana pinjaman dari Bank Exim China belum cair. Bahkan Duta Besar Cina, juga datang meninjau untuk memastikan kucuran dana pinjaman untuk bentang tengah Jembatan Suramadu. "Additional Loan (tambahan pinjaman-red) memang belum ditandatangani oleh pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Keuangan," kata Pejabat Gubernur Jatim itu.
Setya berharap, penandatanganan peminjaman uang itu dapat segera direalisasikan dalam waktu dekat. Selain itu, ia juga mengatakan saat ini pihaknya sudah berhasil mendapat pinjaman dari Bank Jatim sebesar Rp 50 miliar. "Kita cuma bisa menghimbau kepada pemerintah pusat, kita juga bisa memberi pinjaman dari Bank Jatim sebesar Rp 50 miliar. Namun kekurangannya masih banyak," tambahnya. (elka)